JAKARTA, PEMUDATANIKARAWANG.COM – Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, mengungkapkan bahwa sekitar 112 juta penduduk Indonesia masih mengalami kekurangan gizi berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Tahun 2024. Fakta tersebut menunjukkan bahwa persoalan gizi masih menjadi tantangan besar yang harus segera ditangani secara serius karena berkaitan langsung dengan kualitas kesehatan masyarakat dan daya saing bangsa di masa depan.
Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Kesehatan usai mengikuti Rapat Koordinasi Perbaikan Tata Kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bersama Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan di Jakarta, Rabu (29/7/2026). Rapat tersebut membahas berbagai langkah strategis guna memperkuat pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis agar berjalan lebih efektif, tepat sasaran, serta memiliki tata kelola yang transparan dan akuntabel.
Dalam penjelasannya, Budi Gunadi Sadikin menerangkan bahwa satu desil dalam data Susenas mewakili sekitar 10 persen jumlah penduduk Indonesia, atau setara dengan sekitar 28 juta jiwa. Dengan demikian, empat desil terbawah mencakup sekitar 112 juta penduduk yang masih menghadapi persoalan kekurangan gizi.
Menurutnya, angka tersebut menjadi gambaran nyata bahwa persoalan gizi tidak dapat dipandang semata sebagai isu kesehatan, tetapi juga merupakan persoalan pembangunan nasional yang akan menentukan kualitas sumber daya manusia Indonesia pada masa mendatang.
“Di mata Kementerian Kesehatan, masalah gizi adalah salah satu masalah utama kesehatan. Jadi kalau program MBG ini berhasil, banyak sekali masalah kesehatan yang bisa selesai,” ujar Budi Gunadi Sadikin.
Menteri Kesehatan menegaskan bahwa kekurangan gizi pada anak memiliki dampak jangka panjang yang sangat besar. Anak-anak yang tidak memperoleh asupan gizi yang cukup berisiko mengalami gangguan pertumbuhan fisik, penurunan kemampuan belajar, rendahnya perkembangan kecerdasan, hingga meningkatnya risiko berbagai penyakit ketika memasuki usia dewasa.
Menurut Kementerian Kesehatan, investasi pada pemenuhan gizi sejak dini merupakan salah satu langkah paling efektif dalam membangun generasi yang sehat, produktif, dan memiliki daya saing tinggi.
Selain persoalan kekurangan gizi, Kementerian Kesehatan juga masih menghadapi tantangan tingginya angka stunting yang masih berada di bawah angka 20 persen dari sekitar 25 juta balita di Indonesia. Meski menunjukkan tren perbaikan dibanding beberapa tahun sebelumnya, pemerintah menilai angka tersebut masih harus terus ditekan agar target pembangunan kesehatan nasional dapat tercapai.
Hasil Program Cek Kesehatan Gratis yang dilaksanakan pemerintah juga menunjukkan masih banyak anak usia sekolah, mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA), yang mengalami kondisi gizi kurang. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena masa sekolah merupakan periode penting dalam pembentukan kualitas sumber daya manusia.
Di sisi lain, Menteri Kesehatan juga mengingatkan bahwa Indonesia saat ini menghadapi fenomena beban gizi ganda (double burden of malnutrition). Selain masih banyak masyarakat yang mengalami kekurangan gizi, terutama pada kelompok ekonomi bawah, pemerintah juga mencatat meningkatnya kasus kelebihan gizi atau obesitas, khususnya di wilayah perkotaan.
Obesitas pada remaja maupun orang dewasa berpotensi meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular seperti diabetes melitus, hipertensi, penyakit jantung, stroke, hingga gangguan metabolik lainnya. Oleh karena itu, kebijakan perbaikan gizi nasional tidak hanya difokuskan pada pemenuhan asupan makanan bagi kelompok yang kekurangan gizi, tetapi juga mendorong pola konsumsi pangan yang sehat, seimbang, dan bergizi.
Melihat besarnya tantangan tersebut, Budi Gunadi Sadikin menilai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) merupakan salah satu program strategis pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam memperbaiki kualitas kesehatan masyarakat.
Program MBG tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak sekolah, balita, ibu hamil, dan kelompok rentan lainnya, tetapi juga diharapkan mampu mempercepat penurunan angka stunting, meningkatkan kualitas pendidikan melalui perbaikan konsentrasi belajar siswa, serta membangun sumber daya manusia yang lebih sehat, cerdas, dan produktif.
Selain manfaat kesehatan, program ini juga diproyeksikan memberikan efek berganda terhadap perekonomian nasional melalui peningkatan permintaan terhadap komoditas pangan lokal seperti beras, telur, ayam, ikan, sayuran, buah-buahan, susu, dan berbagai hasil pertanian lainnya. Kondisi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani, peternak, nelayan, pelaku UMKM, koperasi, hingga industri pangan nasional.
Meskipun memiliki tujuan yang sangat strategis, pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis masih menjadi perhatian berbagai pihak. Besarnya anggaran yang dialokasikan pemerintah memerlukan sistem pengelolaan yang profesional, transparan, serta pengawasan yang ketat agar pelaksanaan program benar-benar tepat sasaran.
Rapat koordinasi yang dipimpin pemerintah menjadi bagian dari upaya memperbaiki tata kelola MBG agar pelaksanaan program semakin efektif, efisien, akuntabel, serta mampu memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.
Pemerintah menegaskan bahwa keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya diukur dari jumlah penerima manfaat, tetapi juga dari dampaknya dalam menurunkan angka kekurangan gizi, mengurangi stunting, meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, memperkuat ketahanan pangan nasional, serta menciptakan generasi Indonesia yang unggul menuju visi Indonesia Emas 2045.
Dengan masih adanya sekitar 112 juta penduduk yang mengalami kekurangan gizi berdasarkan data Susenas 2024, pemerintah menilai bahwa perbaikan status gizi masyarakat merupakan investasi jangka panjang yang harus menjadi prioritas nasional. Melalui sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, Badan Gizi Nasional, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat, Program Makan Bergizi Gratis diharapkan mampu menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun Indonesia yang lebih sehat, kuat, dan berdaya saing di tingkat global.
(Emed Tarmedi)


